Perlahan - perlahan jemari ku mengetik tombol - tombol kecil dalam notebook manisku "Toshiba NB 305" bersama dengan rintik kecil hujan yang sesekali terdengar rentetan suara petir yang saling bersautan, namun lambat laut suara - suara itu perlahan menghilaang bersama dengan lantunan nada syahdu sang penjaga malam. Angin malam ini mulai berhembus perlahan namun sesekali menyayat kulit yang sedang terbuka yang tak tahu entah dimana selimut kecil yang selama ini setia menemani.
Selimut kecil yang sering terlupakan, yang selalu tertinggal ketika cucian mulai menggunung dalam setiap akhir pekan, namun dia tetap setia ada ketika rasa dingin mendera, namun entah mengapa malam ini terasa lain, udara dingin ini terus menusuk menusuk kulit hingga terasa ke tulang, selimut yang senantiasa ada, yang biasa muncul disaat saat penting, siap dipakai disaat genting tanpa mengeluh terhadap semua aroma hari - hari dan malam - malam sebelumnya, kini ia menghilang tanpa bekas.
bosankah ia terhadap rutinitas biasa, ataukah dia sudah muak terhadap tingkah polah si empunya.
Tak tahu pasti apa yang terjadi pada selimut kecilku, yang pasti malam tanpamu begitu dingin.
Selimut kecil yang sering terlupakan, yang selalu tertinggal ketika cucian mulai menggunung dalam setiap akhir pekan, namun dia tetap setia ada ketika rasa dingin mendera, namun entah mengapa malam ini terasa lain, udara dingin ini terus menusuk menusuk kulit hingga terasa ke tulang, selimut yang senantiasa ada, yang biasa muncul disaat saat penting, siap dipakai disaat genting tanpa mengeluh terhadap semua aroma hari - hari dan malam - malam sebelumnya, kini ia menghilang tanpa bekas.
bosankah ia terhadap rutinitas biasa, ataukah dia sudah muak terhadap tingkah polah si empunya.
Tak tahu pasti apa yang terjadi pada selimut kecilku, yang pasti malam tanpamu begitu dingin.
No comments:
Post a Comment